Di bawah pohon berpagar biru aku masih menunggu.
Mengais angin, mengepal harapan.
Sunyi.
Sesekali hambur debu menggonggongkan rindu.
Tepat saat asap mengepul, di cuilan rembulan sosokmu menyembul.
Sayu wajahmu.
Layu panjang rambutmu.
Kurus kering tubuhmu menanyaiku: Masihkah kau menunggu?
Di bawah pohon berpagar biru aku masih menunggu.
Huruf demi huruf, kata demi kata, aku ikat jadi kalimat.
Kau baca ia dalam pekat.
Senyum ranum bibirmu menanyaiku: Masihkah kau menunggu?
Jalanan kian sesak oleh generasi kelak.
Aku tabur jawaban di sana biar enyah curiga.
Seperlima abad bukanlah masa singkat menyimpul maklumat.
Ada sejuta goda yang telah aku gada mengukuhkanmu sebagai pelita.
Di bawah pohon berpagar biru aku masih menunggu.
Di cuilan rembulan sana kau pun masih berkeras bertanya.
Tentang kejelasan arah bahtera yang siapa pun tak mampu menduga.
Andai anak tangga dapat menyundul ke cuilan rembulan sana, bertaruh nyawa tak apa.
Andai cuilan rembulan berkenan merendah ke tanah, tak masalah menyambutnya meriah, mewah.
Namun, di bawah pohon berpagar biru aku hanya mampu menunggu.
Oleh: August Sb Elbarody
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Diberdayakan oleh Blogger.
jejak celoteh :D
support on facebook (o_o)
Popular Posts
-
Sengaja saya ceritakan ini kepada pembaca semua, dengan harapan saya dapat meluapkan segala perasaan dan kegelisahan yang selama ini mengend...
-
Oleh: Enggar Murdiasih | 09 August 2012 | 19:50 WIB Lenganmu begitu saja terulur lalu melingkari leherku. Aku terduduk di kursi depan jendel...
-
Oleh: Raelita Wahyu | 04 August 2012 | 19:43 WIB Bandung malam hari, cuacanya begitu bersahabat. Angin sepoi menemani aku yang tengah duduk ...
-
Ramadhan membasuh hati yang berjelaga Saatnya meraih rahmat dan ampunan-Nya Untuk lisan dan sikap yang tak terjaga Mohon dibukakan pintu maa...
0 komentar:
Posting Komentar